Di tempat wudu, meja peminjaman buku, atau ruang kegiatan, kita kadang merasa terburu-buru sementara orang di depan belum selesai. Keinginan segera mendapat giliran itu wajar. Yang perlu dijaga adalah cara menyampaikannya agar urusan sendiri tidak membuat orang lain terus-menerus merasa dikejar.
Pastikan urutannya sebelum menegur
Tidak semua tempat memiliki nomor antrean atau garis yang jelas. Bila ragu, tanyakan dengan tenang siapa yang sedang menunggu lebih dahulu. Kalimat “Saya setelah siapa, ya?” sering lebih membantu daripada langsung menyatakan seseorang menyerobot.
Jika tempat tersebut mempunyai petugas atau aturan khusus, ikuti arahan yang berlaku. Jangan menetapkan urutan berdasarkan siapa yang terlihat paling cepat selesai atau paling dekat dengan pintu.
Beri ruang selama orang lain menggunakan fasilitas
Hindari berdiri terlalu dekat, berulang kali melihat jam dengan sengaja, atau memberi komentar tentang lamanya seseorang. Kita tidak selalu mengetahui kendala yang sedang ia hadapi. Jika ada keperluan mendesak, sampaikan permintaan secara langsung dan sopan, tanpa menganggap orang lain wajib mengalah.
Menerima jawaban bahwa kita tetap perlu menunggu juga bagian dari menjaga percakapan. Permintaan berbeda dari keputusan sepihak. Tulisan ini membahas kebiasaan sosial sehari-hari, bukan penetapan hukum agama untuk keadaan tertentu.
Selesaikan giliran sendiri dengan tertib
Siapkan kebutuhan sebelum maju jika memungkinkan. Sesudah selesai, rapikan bagian yang digunakan dan beri jalan kepada orang berikutnya. Jangan menambah kegiatan lain yang sebenarnya bisa dilakukan di tempat terpisah.
Kebiasaan ini sejalan dengan memberi ruang orang lain menyelesaikan kalimat. Pada keduanya, kita belajar tidak mengambil seluruh ruang hanya karena sedang punya keperluan. Satu antrean pendek bisa menjadi latihan untuk bersikap jelas, sabar, dan tetap peka terhadap orang di sekitar.

