Satu kalimat dari terjemahan ayat terasa dekat dengan keadaan kita. Kita ingin menyimpannya, tetapi hanya menyalin kalimat tanpa nomor ayat. Beberapa minggu kemudian, konteks dan sumbernya sulit ditemukan kembali.
Simpan identitas bacaan
Catat nama surah, nomor ayat, sumber terjemahan, serta tautan atau edisi yang digunakan. Jika membaca melalui aplikasi, lihat informasi penerjemah yang tersedia. Jangan menganggap semua terjemahan memiliki pilihan kata yang persis sama.
Salin secukupnya untuk kebutuhan catatan dan tandai sebagai kutipan. Bila menggunakan bahasa sendiri, beri label rangkuman. Perubahan kecil dalam kata dapat membuat pembaca mengira itu bunyi terjemahan yang sebenarnya.
Pisahkan tiga jenis tulisan
Buat tempat berbeda untuk terjemahan, penjelasan tafsir yang dirujuk, dan renungan pribadi. Kalimat “Saya teringat pengalaman ini” tidak memiliki kedudukan yang sama dengan penjelasan sebuah kitab tafsir.
Contoh format: identitas ayat; pertanyaan tentang makna; rujukan penjelasan yang akan dibaca. Cara ini memberi ruang untuk belajar tanpa memaksa kita menyimpulkan semua hal pada satu kali membaca.
Bawa pertanyaan, bukan kepastian yang terburu-buru
Jika berkaitan dengan persoalan hukum agama atau keadaan khusus, tanyakan kepada pengajar yang kompeten. Terjemahan singkat di layar tidak otomatis menjawab seluruh rincian penerapannya.
Ketika membagikan catatan, sertakan sumber dan batas pemahaman sendiri. Kebiasaan memisahkan kutipan dari kesimpulan membantu pembaca memeriksa ulang. Catatan yang dapat ditelusuri lebih bermanfaat daripada kalimat indah yang kehilangan asalnya.

